









|
|
Artikel
|
Jakarta, Kamis, 22 Mei 2003
|
Unjuk Rasa Mahasiswa Berakhir Rusuh
Jakarta, Kompas - Unjuk rasa ribuan mahasiswa pengikut long
march Bandung-Jakarta, Rabu (21/5) malam, berakhir rusuh. Pukul
18.55, puluhan polisi di bawah komando Kepala Pengamanan VIP
MPR-DPR Komisaris Besar Polisi M Chaerul MA, mulai bergerak.
Mereka mendesak mundur para demonstran sampai di bawah jembatan
layang Senayan. Pukul 19.25, unjuk rasa menagih janji reformasi
itu pun bubar.
Pukul 17.00, puluhan kendaraan metro mini dan bus sampai di
kawasan jembatan Semanggi. Para demonstran menutup jalan ke arah
gedung MPR-DPR. Lalu lintas macet total. Beberapa demonstran
meletakkan brosur di kaca-kaca kendaraan yang lewat. Brosur
bergambar lambang Partai Golongan Karya (Golkar) yang disilang.
Beberapa polisi lalulintas berusaha membujuk para demonstran
sampai para pengunjuk rasa kembali membuka jalan.
Arus lalu lintas berangsur lancar, tetapi di depan jembatan
Senayan, lalu lintas macet karena para demonstran menutup jalan
sampai unjuk rasa bubar.
Ribuan mahasiswa, petani dan warga yang mengikuti long march
sejak Kamis lalu, tiba di kampus Universitas Indonesia (UI),
Depok, Selasa malam lalu.
Empat langkah ke depan
Rabu pagi mereka mulai bergerak. Di Universitas Pancasila, Depok,
mereka beristirahat makan dan melanjutkan perjalanan ke
Departemen Kelautan dan Perikanan. Dari sana kelompok di bawah
panji Gerakan Rakyat Indonesia Bergerak itu berunjuk rasa di
Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia (HAM).
Sambil menunggu rekan-rekan mereka yang lain, para demonstran
menyanyikan yel seperti yang dinyanyikan demonstran mahasiswa
lima tahun yang lalu, di tempat yang sama. Para pengunjuk rasa
membawa bambu-bambu dan berbagai panji-panji dan bendera.
Pukul 18.53, sebuah umbul-umbul partai yang dipasang di pagar
pembatas jalan tol di depan gedung MPR-DPR terbakar. Pukul
18.55, polisi di bawah komando Chaerul bergerak. "Empat langkah
ke depan. Empat langkah ke depan," teriak Chaerul. Pukul 18.56,
dua kendaraan meriam air bergerak ke arah demonstran.
Chaerul kemudian mengingatkan para demonstran bahwa mereka telah
melanggar Undang-Undang (UU) Nomor 9 Tahun 1998 tentang
Kebebasan Menyatakan Pendapat di Muka Umum. Menurut UU tersebut,
para demonstran telah melebihi batas waktu unjuk rasa yang
ditetapkan hingga pukul 18.00.
Karena para demonstran bersikeras di tempatnya, Chaerul kemudian
berterak, "Atas nama undang-undang, kalian harus bubar". Dia
kemudian mempersilakan pers mengambil posisi aman.
Pukul 19.00, api tampak menyala di dua titik di tempat para
demonstran. Secara perlahan dua kendaraan meriam air dan puluhan
polisi bergerak ke arah Jembatan Senayan. Pukul 19.10, polisi
menyingkirkan kendaraan komando para demonstran di depan halte
bus gedung MPR-DPR.
Pukul 19.17, polisi menyemprotkan air dari kendaraan meriam air
ke arah para demonstran. Pecah bentrokan. Polisi segera
merangsak maju. Demonstran terdesak dan lari. Sebagian berusaha
bertahan sambil mundur.
Baku lempar batu dan bambu pun terjadi. Di tengah aksi tersebut,
pukul 19.19, sebuah bom molotov membumbung ke udara dan jatuh di
sela puluhan polisi yang mengejar demonstran sampai di bawah
jembatan Senayan.
Pukul 19.25, bentrokan berakhir. Polisi menangkap tujuh orang
demonstran. Mereka dinaikkan kijang bak kendaraan komando para
pengunjuk rasa.
Siang kemarin, polisi juga menangkap empat orang asing, dan 2
warga Indonesia yang sedang berunjuk rasa menentang operasi
militer di Aceh. Mereka ditangkap di depan Istana Merdeka pukul
17.00 setelah sebelumnya terjadi aksi saling dorong antara
ratusan demonstran dan polisi. (win) |
|